Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Wednesday, March 30, 2016

Sama



hatiku
mengapa kamu rindu
kepada seseorang
perempuan berambut pirang
berkulit putih
berlogat tolaki
tidak kah kau sadari
nafsumu membutakan nurani
melihat tanpa memahami
meraba tanpa mengerti
dalam debu-debu merah
dan dalam gejolak jiwa

Tuesday, April 1, 2014

Untuk, aku seorang binatang jalang

Untukmu, aku seorang binatang jalang
Seorang pujangga pinggiran
Hidup dijaman pemberontakan
Dimasa sebelum dan sesudah kemerdekaan
Bersama pemuda-pemudi berkeTuhanan
Rela mati untuk sebuah keadilan
Rela mati untuk sebuah kemenangan
Rela mati untuk sebuah kejayaan

Beribu perlawanan
Berjuta-juta dengan pemikiran
Berjuta-juta dengan sebilah parang
Berjuta-juta dengan darah pengorbanan
Berjuta-juta dengan nyawa tak tergantikan

Aku seorang binatang jalang
Terbujur sendiri dipembaringan
Hidup seribu tahun dalam kedamaian
Meninggalkan beribu kata perjuangan
Tak lekang oleh jaman
Dan tak usang oleh kepemimpinan

Thursday, March 27, 2014

Bulan Sabit

bulan sabit
kuharap dapat menulis
hal indah yang terbesit
diantara saprolit
atau disela-sela limonit
dimalam gelap berteman sakit

cahaya bulan
gemerlap bintang
tak membuatku padam
tak membuatku putus harapan
tetap bertahan
dan tetap menantang

apa yang sudah dibiasakan
apa yang telah dibudayakan
dan ini kisah apa yang dicita-citakan

Wednesday, March 26, 2014

atas nama Rakyat

Kanan dan kiri
Apalah sebuah arti
Apalah sebuah negri
Saat gila atau sakit
Saat merdeka ataupun sempit

Preman-preman lokal
Kadang cerdas kadang bengal
Bengal dengan ketololan
Dan tolol dengan kefasikan
Sombong dengan kedaerahan
Bodoh dengan kesantunan

Wednesday, March 19, 2014

Bintang kecil

Pagi menjelang
Langit menjulang
Malam menghilang
Shubuh berkumandang

Rembulan
Malam ku terdiam
Melukis bintang
Membelai lautan

Terlelap ditanah hitam
ku berdiri disisi hutan hujan
ku menatap bersama angin malam
ku terdiam diantara lukisan-lukisan
ku membisu diantara tulisan-tulisan
ku berdiri diantara gugusan bintang
ku bersama kuasa pemilik keindahan

Sunday, July 4, 2010

angkasa raya



Teman . . .
Ketika dunia tak lagi tertawa dan menjadi neraka
Jangan kau anggap ini sebagai duka
Karena mentari masih terlihat terang
Kejar dan jangan jadi pecundang
Walau jalan semakin suram dan tak karuan
Langkahkan harapan dengan semangat perjuangan
Walau air mata darah 'tlah terhenti
Masih ada satu nyawa dalam satu raga siap mati
Mati ‘tuk perjuangakan dunia kita yang hilang
Terampas oleh penindas yang mengaku pejuang

Kawan . . .
Dengarlah hembusan angin dan sengatan mentari
Apa mereka pernah berkata bosan tuk slalu berhembus dan menyinari ?
Menyinari indahnya hidup kita yang harus diperjuangkan
Merangkak, berdiri, berjalan dan berlari tuk sebuah kemenangan
Dalam dunia yang tidak lagi seimbang
Diantara penindas yang diagungkan dan yang kecil semakin menghilang
Seakan dunia diciptakan bagi perusuh keadilan
Merampas semua hidup yang penuh kedamaian
Dan apakah kita pasrah hanya dengan melihat
Atau mungkin kita tlah jadi penjilat, terjerat, terlaknat

“ PADAM “ (kurt #3)



Sepertiga purnama
Ku terbangun disepertiga malam pertama
Dan ku mendengar alunan nada dari Metallica
Menghentakkan suara kematian dan derita
Melantunkan bait – bait merah hitam dunia
Mengingatkanku pada kawan lama
Sahabat diantara luka dan nestapa
Teman disaat bara api menyala – nyala
Kawan ketika merah membara

pena


Demi pena
Dan demi hitamnya tinta
Serta secarik kertas yang setia menemaninya
Perkataan tiada arti ini tak ‘kan bertahan lama
Karena kata – katanya keluar dari lidah yang berbisa
Tak terpikir dan tak terasa
Berakhir pudar, padam dan ‘kan punah

Bacalah tiap bacaan yang tertulis
Pelajarilah tiap bacaan yang terlukis
Bacaan ini tidak diciptakan secara mistis
Karena bacaan ini bersifat realistis
Bukan bacaan dengan kata romantis
Dan bukan bacaan bagi mereka yang atheis

Wednesday, February 17, 2010

Lamp of Death


Kegelapan ini tiba tanpa ada yang menarik
Datang dengan kecepatan 300.000 km/detik
Memejamkan mata dan jari jemari yang lentik
Dalam sebuah makna terbalut kisah yang cantik

Udara dalam ruang sempit berhias kegerahan
Memaksa menghentikan sebuah angan
Menutup dan membelenggu pikiran
Untuk sementara dilain kesempatan
Membasahi peluh dan gunda dalam tiap perjalanan

kurt #2


Yek . . . ! ! !
Panggilan terakhir pada seorang sahabat
Ketika berjalan tak hiraukan sekitar
Pandangan lurus kearah kepastian
Tak mendengar teriakan
Sendiri tinggalkan kenyataan
Tertuju pada satu kebenaran
Dan semua 'kan kembali padaNYA

Disini . . . kenyataan hidup yang pahit
Ketika kuberjalan sendiri
Tiada seorang kekasih menemani
Ketika kuberdiri sendiri
Banyak orang membenci
Ketika kutermenung
Dunia seakan 'tlah mati
Dan semua ini seakan tak berarti
Karena kuhanya mengerti sahabat sejati